Pesona Alam Pedesaan Pesisir Pantai Trisik
Bukankah Tanah Lot di Bali lebih bersinar dengan keindahan puranya? Bukankah Candi Prambanan lebih menarik dengan Sendra Tari Ramayananya? Bukankah Monas di Jakarta lebih menawan dengan kegagahannya?
Ya, memang kita boleh-boleh saja terlelap sejenak diwaktu-waktu kemarin. Akan tetapi, apakah kita lupa bahwa di Kabupaten Kulon Progo juga ada pesona wisata yang memiliki kekhasan tersendiri. Siapa lagi insan disini yang tak kenal pemandian Clereng, Waduk Sermo atau Pantai Trisik?
Sungguh, sayang apabila pemerintah Kabupaten Kulon Progo khususnya Dinas Pariwisata yang lebih berkompeten tidak mencoba mendayagunakan sektor pariwisata pedesaan sebagai ciri khas di Kabupaten Kulon Progo. Penulis percaya bahwa sektor wisata di Kabupaten ini akan lebih berwarna jika pemerintah daerah lebih mendayagunakannya.
“Just be your self.” (Motto in English).
Pepatah bijak tersebut mengingatkan kembali bahwa menjadi diri sendiri dan menunjukkan segenap potensi diri adalah hal yang patut dibudidayakan. Dari situ dapat disimpulkan bahwa sebagai penerus generasi yang lebih baik, para pemuda juga harus mencintai keanekaragaman budaya dan pesona daerahnya sendiri, misalnya mencintai dan turut menjaga kelestarian Pantai Trisik yang terletak di kelurahan Banaran, kecamatan Galur, kabupaten Kulon Progo. Suatu daerah yang mempunyai pesona wisata dan pemuda yang mempunyai rasa cinta terhadap daerahnya sendiri akan lebih mudah mengembangkan daerah wisatanya dibanding dengan daerah lain. Disana suasana pedesaan pesisir masih kental terasa tidak seperti pantai lainnya yang telahn penuh dengan hotel, penginapan dan restoran. Pantai Trisik dengan kesederhanaannya justru melahirkan nuansa indah alami.
Gambar Pantai Trisik
Perjalanan ke Pantai Trisik merupakan hal yang menyenangkan. Dengan pemandangan berupa hamparan hijau padi, sungai dengan bunga-bunga enceng gondok yang bermekaran dan suasana pedesaan yang tenang. Tak ketinggalan pula banyaknya tanaman kaktus dengan bunga yang menyerupai stroberi. Jalan menuju Pantai Trisik cukup halus dengan sedikit tanjakan. Disekeliling jalan dihiasi oleh ladang yang sering ditanami bibit cabe, semangka, dan melon. Aktivitas warga desa seperti menyiram bibit tanaman, memupuk, mencangkul, dan menyiangi tanaman di ladang dapat dilihat secara langsung. Tidak hanya aktivitas warga yang sedang meladang namun masih ada beragam aktivitas lainnya yang menarik untuk diamati seperti nelayan yang sedang melaut lalu mendaratkan perahu motornya, penjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sampai pedagang makanan dan minuman kecil-kecilan dengan gubuk sederhananya. Di TPI dapat dijumpai bermacam-macam jenis ikan laut seperti ikan tongkol dan ikan putri duyung.
Jika akan membeli ikan laut tak puas rasanya jika tidak menawar. Dengan menawar, harga yang lebih murah pun didapatkan. Tidak hanya puas dalam menawar harga ikan namun ada yang lebih memuaskan hati yaitu memandang horison langit biru hingga terlihat tak ada ujung batasnya. Air laut dan langit Pantai Trisik membiru dan tampak menyatu sempurna. Disini akan tampak bumi dan angkasa yang menyatu seakan tanpa batas, luas dan mempesona. Ditengah birunya laut, para nelayan dengan perahu motornya berlayar mencari ikan. Dengan jala yang cukup besar mereka menangkap ikan di laut lepas. Inilah salah satu sumber penghidupan warga pesisir Pantai Trisik.
Pesona Pantai Trisik tidak hanya itu, rumah-rumah transmigran dan semarak aktivitas kerja warga transmigran pun turut menambah eksotisme Pantai ini. Rumah sederhana yang terbuat dari batako menjadi naungan yang cukup untuk warga pesisir. Di siang hari dapat di lihat gembala kambing menelusuri jalan dan gembala bebek yang berbaris rapi, bahkan lebih rapi daripada barisan siswa saat upacara. Sambil berjalan melihat rumah transmigran, dapat dilihat pula tanaman buah naga yang saat ini sedang dibudidayakan di Pantai Trisik. Buah naga di tanam berbaris rapi dan teratur. Pohonnya hijau melilit tiang permanen. Buahnya merah dengan bentuk luar seperti bentuk sayap naga. Salah satu jenis buah naga adalah buah naga dengan daging putih berbiji hitam, rasanya manis sekali. Selain buah naga ada juga tanaman rumput gulung yang bentuknya seperti landak. Berkunjung ke Pantai Trisik tidak puas rasanya jika belum memetik rumput gulung yang sudah tua. Biasanya rumput gulung yang sudah tua dipetik lalu dijemur di bawah terik matahari. Jika tiba malam, rumput gulung dinyalakan dengan korek api lalu akan terdengar suara “pletek-pletek” seiring nyala rumput.
Di Pantai itu terdapat juga sebuah suangan (semacam danau) yang airnya tenang sekali. Biasanya suangan ini dimanfaatkan oleh pengunjung untuk memancing. Menikmati pemandangan Pantai Trisik selalu indah dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, sore maupun malam. Deburan ombak yang cukup besar mengalirkan air dengan buih-buihnya yang menyapu bibir pantai. Percikan air ombaknya terasa menyegarkan. Sambil duduk di pasir atau di atas perahu motor menikmati luasnya laut dan indahnya lukisan Tuhan yang tergores di langit memberikan kesan damai di hati. Dari situ dapat dirasakan betapa indah karunia Tuhan untuk hidup umat manusia.
Namun disamping semuai itu, ada beberapa hal yang kurang diperhatikan oleh Pemerintah Daerah setempat seperti kurangnya tempat pembuangan sampah. Penulis berharap pemerintah daerah setempat segera menindaklanjuti hal tersebut agar obyek wisata Pantai Trisik terbebas dari sampah. Pantai Trisik yang bersih tentu akan menambah minat para pengunjung. Bersama-sama marilah masyarakat khususnya generasi muda dan pemerintah daerah setempat bahu-membahu merawat dan mencintai Pantai Trisik.
Dari uraian diatas, sudah sepatutnya seorang pemuda yang baik harus bisa turut andil menjaga kelestarian Pantai Trisik. Bangga denga keanekaragaman budaya dan pesona wisata daerah sendiri harus ditanam dalam-dalam disetiap jiwa pemuda. Seperri lirik lagu “Tanah Airku” yang berbunyi
Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku merasa senang
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai.
Seperti dalam lirik lagu, mengalir bersama air, menderu seperti debu, membelai bagai angin dan menyatu tanpa batas ruang dan waktu, maka seperti itulah cinta kita terhadap negara, terhadap bangsa, terhadap tanah kelahiran dan hal yang paling dekat, yaitu daerah sekitar kita seperti Pantai Trisik. Memulai dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil dan mulai saat ini juga. Jika kita mau mencintai dan melestarikan daerah sekitar kita seperti halnya Pantai Trisik maka niscaya Pantai Trisik juga akan memberikan pesona cintanya untuk kita.
“Sekian”
Bukankah Tanah Lot di Bali lebih bersinar dengan keindahan puranya? Bukankah Candi Prambanan lebih menarik dengan Sendra Tari Ramayananya? Bukankah Monas di Jakarta lebih menawan dengan kegagahannya?
Ya, memang kita boleh-boleh saja terlelap sejenak diwaktu-waktu kemarin. Akan tetapi, apakah kita lupa bahwa di Kabupaten Kulon Progo juga ada pesona wisata yang memiliki kekhasan tersendiri. Siapa lagi insan disini yang tak kenal pemandian Clereng, Waduk Sermo atau Pantai Trisik?
Sungguh, sayang apabila pemerintah Kabupaten Kulon Progo khususnya Dinas Pariwisata yang lebih berkompeten tidak mencoba mendayagunakan sektor pariwisata pedesaan sebagai ciri khas di Kabupaten Kulon Progo. Penulis percaya bahwa sektor wisata di Kabupaten ini akan lebih berwarna jika pemerintah daerah lebih mendayagunakannya.
“Just be your self.” (Motto in English).
Pepatah bijak tersebut mengingatkan kembali bahwa menjadi diri sendiri dan menunjukkan segenap potensi diri adalah hal yang patut dibudidayakan. Dari situ dapat disimpulkan bahwa sebagai penerus generasi yang lebih baik, para pemuda juga harus mencintai keanekaragaman budaya dan pesona daerahnya sendiri, misalnya mencintai dan turut menjaga kelestarian Pantai Trisik yang terletak di kelurahan Banaran, kecamatan Galur, kabupaten Kulon Progo. Suatu daerah yang mempunyai pesona wisata dan pemuda yang mempunyai rasa cinta terhadap daerahnya sendiri akan lebih mudah mengembangkan daerah wisatanya dibanding dengan daerah lain. Disana suasana pedesaan pesisir masih kental terasa tidak seperti pantai lainnya yang telahn penuh dengan hotel, penginapan dan restoran. Pantai Trisik dengan kesederhanaannya justru melahirkan nuansa indah alami.
Gambar Pantai Trisik
Perjalanan ke Pantai Trisik merupakan hal yang menyenangkan. Dengan pemandangan berupa hamparan hijau padi, sungai dengan bunga-bunga enceng gondok yang bermekaran dan suasana pedesaan yang tenang. Tak ketinggalan pula banyaknya tanaman kaktus dengan bunga yang menyerupai stroberi. Jalan menuju Pantai Trisik cukup halus dengan sedikit tanjakan. Disekeliling jalan dihiasi oleh ladang yang sering ditanami bibit cabe, semangka, dan melon. Aktivitas warga desa seperti menyiram bibit tanaman, memupuk, mencangkul, dan menyiangi tanaman di ladang dapat dilihat secara langsung. Tidak hanya aktivitas warga yang sedang meladang namun masih ada beragam aktivitas lainnya yang menarik untuk diamati seperti nelayan yang sedang melaut lalu mendaratkan perahu motornya, penjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sampai pedagang makanan dan minuman kecil-kecilan dengan gubuk sederhananya. Di TPI dapat dijumpai bermacam-macam jenis ikan laut seperti ikan tongkol dan ikan putri duyung.
Jika akan membeli ikan laut tak puas rasanya jika tidak menawar. Dengan menawar, harga yang lebih murah pun didapatkan. Tidak hanya puas dalam menawar harga ikan namun ada yang lebih memuaskan hati yaitu memandang horison langit biru hingga terlihat tak ada ujung batasnya. Air laut dan langit Pantai Trisik membiru dan tampak menyatu sempurna. Disini akan tampak bumi dan angkasa yang menyatu seakan tanpa batas, luas dan mempesona. Ditengah birunya laut, para nelayan dengan perahu motornya berlayar mencari ikan. Dengan jala yang cukup besar mereka menangkap ikan di laut lepas. Inilah salah satu sumber penghidupan warga pesisir Pantai Trisik.
Pesona Pantai Trisik tidak hanya itu, rumah-rumah transmigran dan semarak aktivitas kerja warga transmigran pun turut menambah eksotisme Pantai ini. Rumah sederhana yang terbuat dari batako menjadi naungan yang cukup untuk warga pesisir. Di siang hari dapat di lihat gembala kambing menelusuri jalan dan gembala bebek yang berbaris rapi, bahkan lebih rapi daripada barisan siswa saat upacara. Sambil berjalan melihat rumah transmigran, dapat dilihat pula tanaman buah naga yang saat ini sedang dibudidayakan di Pantai Trisik. Buah naga di tanam berbaris rapi dan teratur. Pohonnya hijau melilit tiang permanen. Buahnya merah dengan bentuk luar seperti bentuk sayap naga. Salah satu jenis buah naga adalah buah naga dengan daging putih berbiji hitam, rasanya manis sekali. Selain buah naga ada juga tanaman rumput gulung yang bentuknya seperti landak. Berkunjung ke Pantai Trisik tidak puas rasanya jika belum memetik rumput gulung yang sudah tua. Biasanya rumput gulung yang sudah tua dipetik lalu dijemur di bawah terik matahari. Jika tiba malam, rumput gulung dinyalakan dengan korek api lalu akan terdengar suara “pletek-pletek” seiring nyala rumput.
Di Pantai itu terdapat juga sebuah suangan (semacam danau) yang airnya tenang sekali. Biasanya suangan ini dimanfaatkan oleh pengunjung untuk memancing. Menikmati pemandangan Pantai Trisik selalu indah dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, sore maupun malam. Deburan ombak yang cukup besar mengalirkan air dengan buih-buihnya yang menyapu bibir pantai. Percikan air ombaknya terasa menyegarkan. Sambil duduk di pasir atau di atas perahu motor menikmati luasnya laut dan indahnya lukisan Tuhan yang tergores di langit memberikan kesan damai di hati. Dari situ dapat dirasakan betapa indah karunia Tuhan untuk hidup umat manusia.
Namun disamping semuai itu, ada beberapa hal yang kurang diperhatikan oleh Pemerintah Daerah setempat seperti kurangnya tempat pembuangan sampah. Penulis berharap pemerintah daerah setempat segera menindaklanjuti hal tersebut agar obyek wisata Pantai Trisik terbebas dari sampah. Pantai Trisik yang bersih tentu akan menambah minat para pengunjung. Bersama-sama marilah masyarakat khususnya generasi muda dan pemerintah daerah setempat bahu-membahu merawat dan mencintai Pantai Trisik.
Dari uraian diatas, sudah sepatutnya seorang pemuda yang baik harus bisa turut andil menjaga kelestarian Pantai Trisik. Bangga denga keanekaragaman budaya dan pesona wisata daerah sendiri harus ditanam dalam-dalam disetiap jiwa pemuda. Seperri lirik lagu “Tanah Airku” yang berbunyi
Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku merasa senang
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai.
Seperti dalam lirik lagu, mengalir bersama air, menderu seperti debu, membelai bagai angin dan menyatu tanpa batas ruang dan waktu, maka seperti itulah cinta kita terhadap negara, terhadap bangsa, terhadap tanah kelahiran dan hal yang paling dekat, yaitu daerah sekitar kita seperti Pantai Trisik. Memulai dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil dan mulai saat ini juga. Jika kita mau mencintai dan melestarikan daerah sekitar kita seperti halnya Pantai Trisik maka niscaya Pantai Trisik juga akan memberikan pesona cintanya untuk kita.
“Sekian”
Komentar
Posting Komentar